PENDAHULUAN
QUR’AN AL-KARIM adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh
Alloh SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia. Di samping itu juga al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang menduduki peringkat teratas dan seluruh ayatnya berstatus qot’iyyah al-wurud, yang diyakini eksistensinya sebagai wahyu dari Allah SWT. Sebagai petunjuk, maka al Qur’an ayat demi ayatnya harus difahami maknanya serta dapat dimengerti kandungannya, agar kitab suci itu benar benar memberikan petunjuk kepada para pengikutnya. Dalam upaya memudahkan pemahaman, para Ulama terdahulu tidak henti-hentinya mencurahkan segala kemampuan pemikirannya, menggali, mendalami ayat-ayat al-Qur’an sehingga lahirlah aneka ragam tafsir dan berbagi cabang ilmu pengetahuan yang sangat berharga bagi umat manusia .
Semangat mengkaji dan mendalami kandungan ayat-ayat al-Qur’an tentunya harus ditunjang dengan seperangkat ilmu di antaranya bahasa Arab ,ilmu fiqh, Ushul Fiqh, ilmu hadist, ilmu tafsir dan lain-lain. Di samping itu dituntut untuk mengetahui ilmu pengetahuan lain yang menunjang terhadap pemahaman kandungan ayat-ayat al-Qur’an yaitu ulumul Qur’an, ilmu-ilmu al-Qur’an yang di dalamnya membahas tentang Nuzulul Qur’an, Asbabun nuzul, Makiyyah dan madaniyyah, Nasikh dan mansukh, teori Munasabah,Qosam al Qur’an, muhkam mutasyabih, fawatih al-suwar, ilmu qira’at, qira’at al-sab’ah, jadal al-Qur’an, amtsal al-Qur’an, I’jaz al-Qur’an dan lain lain.
Dalam hal ini Penulis akan mencoba untuk membahas salah satu cabang ilmu al-Qur’an, yaitu amtsal al-Qur’an (perumpamaan dalam al-Qur’an). Menurut Manna al-Qaththan (seorang Ulama Pakar al-Qur’an) dalam kitabnya Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (1973;281) beliau berpendapat bahwa amtsal al-Qur’an adalah ilmu yang dapat mengungkap hakikat yang tinggi, makna serta tujuan dari al-Qur’an. Selain itu ungkapan akan lebih menarik jika dituangkan dalam siyaqul kalam (konteks kalimat) yang bagus, dan indah. Oleh karena itu tamtsil (pemisalan perumpamaan) dapat menampilkan makna dalam bentuk yang paling hidup dan mantap, di dalam fikiran dengan cara menyerupakan sesuatu yang ghaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang konkrit, dan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa, sehingga mudah untuk memahami makna, maksud dan tujuan dari kalimat yang diumpamakan tersebut. Adapun menurut al-Zarqony dalam kitabnya Manahilul Irfan mengatakan bahwa banyak ungkapan yang baik dijadikan lebih indah, menarik dan mempesona oleh tamtsil al-Qur’an. Oleh karena itu maka tamtsilul Qur’an dapat mendorong jiwa untuk lebih menerima makna al-Qur’an yang dimaksud. Dan tamtsil dapat dikategorikan salah satu uslub al-Qur’an dalam mengungkap berbagai penjelasan segi kemukjizatan al-Qur’an. Banyak Ulama yang menekuni bidang ilmu ini. Ulama ada yang secara khusus membahas ilmu amtsalul-Qur’an secara khusus dalam kitabnya, dan ada yang menempatkan hanya satu bab saja tentang amtsal al-Qur’an dalam kitabnya. Kelompok pertama di antaranya adalah Abu Hasan al-Mawardi dengan kitabnya Al-Ilmu Amtsal Al-Quran, dan kitab A’lamul-Muwaqqi’in oleh Ibnu Qoyyim dan lain lain.
Sedangkan kelompok yang kedua adalah Imam al-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqon fi ulumil Qur’an, Muhammad Badruddin bin Muhammad Abdillah al-Zarkasyi atau yang lebih terkenal dengan nama al-Zarkasyi di dalam kitabnya al-Burhan fi ulumil Qur’an, manna al-Qaththan dalam kitabnya Mabahits Fi Ulumil Qur’an, Muhammad abdul adzim al Zarqony dalam kitabnya Manahilul Irfan, dan lain-lain. AMTSAL AL-QUR’AN –Sebuah Telaah Ilmu Al-Qur’an- (Ida Af’idah) 75.
PEMBAHASAN
Begitu banyak penyerupaan yang terkandung dalam al-Qur’an baik pe-nyerupaan sesuatu dengan hal yang lainnya atau penyamaan di antara keduanya dalam hukum mencapai lebih dari 40 surat di antaranya: Q.S. Al-Hasyr [59]: 21; Q.S al-Ankabut [29] : 43; Q.S. al- Zumar [39] : 27 dan surat surat lainnya (Manna al-Qaththan , cet. 1973 ; 282 dan Al-Zarkasyi, jilid I, Cet. 1988 ;572 ) Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ali r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur’an terdiri dari perintah-perintah dan larangan larangan tradisi yang telah lalu dan perumpamaan yang dibuat. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Abu Ibrahim bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan atas lima bentuk halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal, maka ketahuilah yang halal dan jauhilah yang haram, ikutilah yang muhkam imanilah yang mutasyabih dan ambilah pelajaran dari ayat-ayat amtsal. “
A. Pengertian Amtsal
Menurut etimologi amtsal jamak dari matsal, mitsil, dan matsil sama dengan syabah, syibh, syabih artinya perumpamaan atau pemisalan melalui pengertian mengungkapkan kisah dan sifat yang menarik perhatian, menakjubkan dan bisa diambil pelajaran darinya Sedangkan menurut terminologi amtsal adalah ungkapan yang dikaitkan secara menyeluruh yang bermaksud dengan ungkapan tersebut menyerupai atau menyamarkan keadaan yang dihikayatkan dengan keadaaan yang diharapkan (yang dimaksud sebenarnya atau menyerupai maksud yang dituju )
Menurut Imam al-Zamakhsyari amtsal adalah serupa atau sebanding. Jadi perumpamaan dengan maksud yang dituju itu harus sebanding. Jika tidak maka akan lebih menyulitkan untuk difahami dan tidak layak. Menurut Ulama ahli bayan amtsal adalah majaz murokab yang keadaan alaqohnya musyabbah (keadaan keterangannya memalingkan makna yang sebenarnya) sampai kepada isti’malnya dan asalnya merupakan isti’aroh tamtsilliyah.76 Volume 1 - Nomor 1 - November 2001 : 73-81 Menurut ahli hikmah amtsal adalah menyatakan bentuk kalimat dengan halus, tersusun, dan indah sehingga orang tertarik untuk memperhatikannya. Menurut Ibnu Qoyyim amtsal adalah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam segi hukumnya dan memudahkan akal untuk memahaminya dan pada akhirnya untuk bisa diambil hikmah atau pelajaran dari perumpamaan tersebut.
B. Macam-macam Amtsal Dalam al-Qur’an
Amtsal dalam al-Qur’an ada tiga macam. Pertama, Amtsal Musharrahah artinya jelas dan tegas di dalamnya dijelaskan dengan lafadz tamtsil atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amtsal seperti ini di antaranya, firman Allah mengenai orang munafik: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan membiarkan mereka ada dalam kegelapan, Mereka tidak dapat melihat, bisu, tuli dan buta. Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) atau seperti (orang-orang yang ditimpa)hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat” (al-Baqarah; 17-20). Di dalam ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang munafik. Matsal yang berkenaan dengan api (nar) dalam firman Nya, adalah seperti orang yang menyalakan api, karena di dalam api terdapat materi cahaya yang bermanfaat, dan matsal yang berkenaan dengan air hujan (ma’i) atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan yang lebat dari langit, karena di dalam air terdapat materi kehidupan. Allah menyebutkan dua macam matsal ma’i dan zabad dalam surat al- ra’d, bagi yang hak dan yang bathil: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit maka mengalirlah air dari lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat. Adapula buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (matsal) bagi yang benar dan yang bathil. Buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi, demikianlah Allah membuat perumpaman perumpamaan”. (Al-Ra’d, 17) Kedua, Amtsal Kaminah artinya tersembunyi, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamtsil tetapi ia menunjukkan makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya mempunyai pengaruh tersendiri AMTSAL AL-QUR’AN –Sebuah Telaah Ilmu Al-Qur’an- (Ida Af’idah) 77 bila dipindahkan ke dalam sesuatu yang serupa dengannya. Untuk matsal ini Ulama ‘Ulumul Qur’an mengajukan sejumlah contoh di antaranya 1. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan khairul umur al-wasith, sebaik-baiknya urusan adalah pertengahannya, yaitu :
• Firman Allah mengenai sapi betina: “Innahã baqaratun lã wa lã bikrun ‘awãnun baina dzãlika, sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; per- tengahan di antara itu …” (al-Baqarah [2] : 68 ); • Firman Allah tentang nafkah: “wal-ladzina idzã anfaqũ lam yusrifũ wa lam yaqturũ wa kãna baina dzãlika qawãman, dan mereka yang apabila membelanjakan hartanya mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian“. (al-Furqan [2] : 67). • Firman Allah mengenai shalat: “wa lã tajhar bishalãtika wa lã tukhãfit bihã wabtagi baina dzãlika sabila, dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan di tengah antara keduanya itu”. (Al Isra [17] :110) 2. Ayat yang senada dengan perkataan laisal khairu kal mu’ayanati (kabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri). Misalnya firman Allah tentang Ibrahim : • “Allah berfirman : ”qôla awalam tu’minu, qôla balã walãkin liyathmainna qalbie; apakah kamu belum percaya? Ibrahim menjawab: aku telah percaya akan tetapi agar bertambah tetap hati saya (al-Baqarah[2] : 260). 3. Ayat yang senada dengan perkataan sebagaimana kamu telah menghutangkan, maka kamu akan dibayar). Misalnya: ”man ya’mal sûan yujza bihi; barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu“. (An-Nisa [4]; 123) 4. Ayat yang senada dengan perkataan: Orang mukmin tidak akan terjerembab dua kali dalam lubang yang sama.
• Misalnya firman Allah melaui lisan Yaqub : “hal ãmatukum ‘alaihi illã kamã amintukum ‘alã akhihi min qablu; Bagaimana aku mempercaya- kannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya Yusuf kepadamu dahulu (Yusuf [12] : 64) (Lihat Manna al-Qhaththan 285-286 )78 Volume 1 - Nomor 1 - November 2001 : 73-81 Ketiga, Amtsal Mursalah berarti lepas yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan kalimat amtsal secara jelas tapi kalimat-kalimat tersebut sebagai matsal. Berikut ini adalah contoh-contohnya : “Laisa lahã min dûnil-lãhi kã syifatun; Tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah” (al-Najm [53] : 58). “wa makra assayyii wa lã yahiqu al-makru assayyiu illã biahlihi; Dan rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri” ( al-Fathir [35] : 43). “qul kullun ya’malu ‘alã syãkilatihi; Katakanlah : “tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing masing “ (al- Isra [17] ; 84). “wa ‘asã an-takrahû wa huwa khairun lakum; Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu“. (al-Baqarah [2] : 216) “kullu nafsin bimã kasabat rahinatun; Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya“ (al-Muddatsir [74] : 38). “hal jazãu al-ihsãnu illã al-ih ihsãnu; Adakah balasan kebaikan selain dari kebaikan pula (al Rahman [55] : 60). “kullu hizbin bimã ladaihim farihûn; Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing masing)” (al-Mu’minun [23] :53). “limitsli hãdã falya’mali al ‘ãmilûna; Untuk kemenangan yang seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”(al-Shaffat [37] : 61). “qul-lã yastawi al-khabitsu wa ath-thayyibu; Tidak sama yang buruk dengan yang baik, “ (al-Maidah [5] :100) “kam min fiatin qalilatin ghalabat fiatan katsiratan bi-idznillãhi; Betapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” (al-Baqarah [2] ; 249). Namun macam-macam amtsal mursalah ini masih menimbulkan kontro- versi di kalangan Ulama, di antaranya seorang mufassir Imam al-Razy berpendapat bahwa dengan adanya amtsal mursalah ini logikanya seluruh ayat al-Qur’an bias dijadikan sebagai perumpamaan, tergantung bagaimana seseorang menginterpretasikannya. Jika hal tersebut terjadi maka tidaklah tepat sebagai contoh ayat lakum dinukum waliyadin. Jika kalimat ini dimasukkan ke dalam amtsal tidak menutup kemungkinan orang-orang muslim akan meninggalkan kewajiban untuk berdakwah padahal bukan itu makna yang dimaksud oleh al-Qur’an. Jadi penggunaan amtsal mursalah ini justru menimbulkan makna yangAMTSAL AL-QUR’AN Sebuah Telaah Ilmu Al-Qur’an- (Ida Af’idah) 79 berseberangan dalam menafsirkan suatu ayat al-Qur’an. Tapi hendaknya dalam melihat suatu konteks ayat (seperti contoh ayat tadi) kita menyimak, menelaah sehingga bisa memahami dalam kondisi bagaimana ayat itu diterapkan atau dalam hal apa kita bersikap seperti itu. Sedangkan menurut Ulama Bayan hal tersebut tidaklah jadi dosa seseorang mengambil ayat al Qur’an yang mana saja sebagai perumpamaan asal jangan bertujuan untuk memutar balikkan fakta untuk menampakkan kepintaran dan menjadikan perumpamaan dalam ayat tersebut sebagai gurauan, mainan, dan lelucon. ( al-Burhan, jilid I , hal. 577 ).
B. Faidah-Faidah Amtsal Dalam Al-Qur’an
Melahirkan sesuatu yang dapat difahami oleh akal dalam bentuk rupa yang dapat dirasakan dengan panca indra, lalu mudah diterima oleh akal lantaran makna yang dapat difahamkan oleh akal tidaklah tetap dalam ingatan hati, terkecuali apabila dituangkan dalam bentuk yang dapat dirasakan yang dekat dengan faham itu seperti perumpamaan yang ria dalam bershadaqah dalam surat al-Baqarah : 264 (“famatsaluhu kamatsali shafwãnin ‘alaihi turãbun; seperti batu licin yang di atasnya ada tanah lalu ditimpa hujan”) Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak menjadi tampak dalam ayat-ayat al-Qur’an banyak digambarkan tentang surga, neraka, dan kiamat. dengan hal hal yang kita ketahui di alam dunia. Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dengan ungkapan yang padat, seperti amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam ayat-ayat di atas, memotivasi manusia untuk berbuat sesuai dengan isi matsal jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Misalnya Allah membuat matsal bagi keadaan orang yang menafkahkan harta di jalan Allah, di mana hal itu akan memberikan kepadanya kebaikan yang banyak seperti dalam surat al-Baqarah ayat 261 “kamatsali habbatin anbatat sab’a sanãbila fie kulli sunbulatin miatu habbati; seperti biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai di setiap tangkainya tumbuh menjadi seratus biji” Menjauhkan (tanfir) jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci jiwa misalnya firman Allah tentang perumpamaan orang yang suka bergunjing seperti dalam surat al-Hujurat ayat 12 (“wa lã tajassasû wa lã yaghtaba ba’dlukum ba’dlan, ayyuhibbu ahadukum an ya kula lahma akhihi maitan; dan janganlah menggunjing sebagian kamu kepada sebagian yang lainnya. Sukakah salah satu di antara kamu memakan daging bangkai saudaranya”)80 Volume 1 - Nomor 1 - November 2001 : 73-81 Untuk memuji orang yang dijadikan matsal seperti sifat para sahabat dalam surat al-Fath ayat 29. Untuk menggambarkan dengan matsal itu sesuatu yang mempunyai sifat buruk di tengah masyarakat misalnya tentang keadaan orang yang dikaruniai kitab Allah akan tetapi ia tidak mau mengamalkannya sehingga ia menjadi sesat seperti dalam surat al-A’raf ayat 174 –175. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih memuaskan hati. Allah banyak menyebut amtsal dalam al-Qur’an untuk peringatan dan pelajaran.
KESIMPULAN & PENUTUP
Dari uraian di atas Penulis menyimpulkan bahwa : Amtsal adalah suatu ungkapan yang maknanya menyerupakan sesuatu dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu. Dilihat dari segi bentuknya amtsal terbagi pada tiga macam bentuk Yaitu : amtsal musharohah, amtsal kaminah, dan amtsal mursalah. Amtsal memiliki manfaat untuk memudahkan dalam pengungkapan makna al-Qur’an, yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan hujjah yang terkandung dalam al-Qur’an serta untuk menjelaskan dan memberi keyakinan terhadap orang mukmin tentang kemukjizatan al-Qur’an.
Sesungguhnya al Qur’an itu merupakan bahasa yang terindah sehingga banyak kata-kata, baik yang berupa sindiran ataupun yang berupa perkataan langsung ditafsirkan dengan kata-kata matsal. Untuk itu, banyak Ulama yang menulis dan membahas perumpamaan-perumpamaan dalam al-Qur’an, dengan maksud untuk memberikan gambaran keadan sesuatu hal dengan hal lain baik penggambaran itu dengan cara isti’aroh (samar) ataupun dengan tasybih sharih (jelas) atau mengambil dari redaksi ayat al-Qur’an secara langsung. Namun tidak semua Ulama sependapat dengan kata-kata amtsal yang digunakan dalam seluruh ayat al-Qur’an, hal ini demi menjaga keagungan dan kedudukan al-Qur’an dalam jiwa orang mukmin.
DAFTAR PUSTAKA
AMTSAL AL-QUR’AN –Sebuah Telaah Ilmu Al-Qur’an- (Ida Af’idah) 81
As-Asyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumu Al-Qur’an, Dãr Al-Fikri, Beirut, 1989;
Dawud Al-Thar, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Hidayah, Bandung,
1994;
Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Media-Media Pokok Dalam
Menafsirkan Al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta, 1972;
Manna Al-Qaththan, Mubãhits Fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dãr Al-Fikri, Beirut, 1973
Zarkasih, Al-Burhan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dãr Al-Fikri, Beirut, 1988;
Zarqani, Manahil Al-Irfan, Dãr Al-Fikri, Beirut, 1977.