Search This Blog

Sunday, January 22, 2012

Merayakan Malam Natal



“Mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama umat kristiani”

Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama (BEM-J PA) mengadakan studi lapangan perayaan malam natal di gereja ST. Fransiscuc Xaverius Kidul Loji dengan tema “Memahami Makna Natal Bagi Umat Kristen”. Acara tersebut dilaksanakan pada sabtu malam minggu, 24 Desember 2011, bertempat di Jl. P. Senopati 22 Yogyakarta, sebelah barat SMU pangudi Luhur.
Acara tersebut terselenggara berkat dana BEM-Jurusan Perbandingan Agama. Seremonial Natal diawali dengan Missa (persiapan perayaan Natal) dimulai pukul 17.30, dibuka dengan arak-arakan pasukan berjubah kuning dengan membawa makan dan patung-patung sebagai symbol kepercayaan mereka.
Studi lapangan kedua ini sangat berbeda dengan yang perdana, kegiatan studi lapangan pertama yang diselenggarakan BEM-J PA di candi mendut dancandi Borobudur di magelang Jawa Tengah, saat perayaan waisak. Sedangkan kali ini bertempat di gereja yang dipenuhi dengan patung yesus, bunda maria, gambar-gambar santo. Pada kegiatan ini dikuti oleh 47 orang, 32 orang peserta dan 15 orang dari pengurus BEM-J.
Acara perayaan malam natal yang diselenggarakan oleh BEM-J PA di gereja St. Sanfransiscus Xaverius kidul loji disambut baik oleh romo dan segenap panitia pelaksana. Saya senang sekali di datangi teman-teman dari UIN dalam acara perayaan natal ini, “ungkap romo…….”
Selain itu, Rahmat fajar,selaku ketua BEM-J PA menegaskan tujuan dilaksanakannya acara tersebut yakni memberi pengalaman langsung tentang natal. Kak fajar, nama akrab ketua BEM-J PA ini menambahkan dengan harapan mampu memahami simbol-simbol dan aspek-aspek teologis dalam Kristen (katolik).
Tanggapan dari salah satu perseta perayaan natal, Fatih, mahasiswa Perbandingan Agama angkatan 2010 menyatakan bahwa dengan diadakannya study lapangan ini, dapat menambah wawasan dan pembuka cakrawala. “Akan tetapi ada yang kurang dalam pemfasilitasian, banyak teman-teman yang ingin ikut tapi keterbatasan kuota”, ujarnya. “Semoga BEM-J PA ditahun berikutnya bisa meningkatkan fasilitas dan kuota peserta”, tambahnya.
Erin Gayatri, mahasiswa Perbandingan Agama angkatan 2010 menegaskan, dengan study lapangan dapat memberi wawasan dan pengetahuan baru mengenai kegiatan di dalam gereja, khususnya mahasiswa baru angkata 2011 yang belum pernah masuk gereja, belum mendapat mata kuliah agama kristen, dan baru pertama kali mengikuti perayaan natal. Momen paling berkesan dalam studi lapangan perayaan malam natal yakni mulai dari mempelajari arsitek gereja, umat (jemaat), hingga ritual. “saat dialog dengan romo, seolah di antara umat yang berbeda agama pada hakikatnya tidak ada sekat dan halangan” ujarnya. Saya sangat tersanjung mengamati ke-khusyu’-an umat katolik saat beribadah” tambahnya.
selain perayaan natal, masih banyak lagi agenda BEM-J PA terkait study lapangan dengan hari besar nasional seperti Imlek, Nyepi, Maulid Nabi, Waisak, Wafatnya Yesus, Idul Fitri dan kegiatan ke-Agama-an lainnya.
*Penulis adalah crew buletin LORUS angkatan 2010


Saturday, January 21, 2012

ISLAM


ISLAM
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliyah Sejarah Agama-agama
Dosen Pengampu : Ustadi Hamzah





Disusun oleh :
Rifki pahlevi
Zubaidi

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Kehidupan ini tak lepas dari berbagai problema, entah itu masalah ekonomi, masalah tataaturan hidup dan masih banyak masalah-masalah lain yang mendera manusia, disinilah mungkin peran Agama muncul untuk membatasi dan mengatasi masalah setiap manusia, bahkan dengan adanya Agama manusia benar-benar berusaha berterimakasih pada yang menciptakannya dan berusaha mengetahui seperti apa tuhannya. Agama didunia ini sangat banyak mungkin ratusan bahkan mungkin lebih dari itu,salah satu dari agama tersebut adalah Islam, yang dimana agama ini adalah Agama yang mempunyai aspek terlengkap dalam kehidupan dulu hingga nanti. Agama yang di turunkan untuk manusia ini, bertujuan untuk membatasi tingkah laku manusia dan menjadikan pola kehidupan yang benar-benar bisa menjadi manusia yang berguna dan mampu bersyukur disetiap langkahnya.

B.RUMUSLAN MASALAH
Dan tidak dipungkiri juga setiap agama mempunyai kendala entah itu dari literarur lingkungan atau budaya atau letak geografis, disinilah peran para cendekiawan muda memecahkan problema Agama yang pada hakikatnya mempunyai peran penting dalam kehidupan teruatama Agama islam .
Mencoba menjelaskan sejarah Agama Islam dan mencoba menjawab setiap permasalahan yang ada pada agama islam.







BAB II
PEMBAHASAN
SEKILAS TENTANG ISLAM
Nabi Muhammad saw dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi.Setelah berusia 4 tahun beliau diserahkan kepada ibunya.Hanya lebih kurang 2 tahun beliau sempat diasuh oleh ibunya.Pada waktu beliau berumur 6 tahun, ibunya berpulang ke Rahmatullah.Oleh karena itu beliau pergi menyendiri bersemedi di Gua Hira di kaki Jabal Nur. Beliau memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk untuk memperbaiki kaumnya yang telah tersesat dari jalan yang benar.Setelah selang beberapa waktu, pada saat yang berbahagia, turunlah wahyu yang pertama disampaikan oleh malaikat Jibril. Hal itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 611 Masehi.Wahyu tersebut yaitu QS.Al Alaq ayat 1 – 5.
Sebelum berangkat, Jibril memberitahukan kepada Muhammad bahwa beliau telah diangkat Tuhan menjadi Rasul untuk menyampaikan ajaran Islam kepada kaumnya dan seluruh umat di dunia.Rasul menjadi heran dan takut.Tetapi setelah mendapat penjelasan dari Waraqah bin Naufal, seorang pendeta nasrani ahli kitab suci menjelaskan bahwa benar Muhammad diangkat menjadi Rasul maka rasa heran dan takut itu menjadi hilang.Dalam firman Allah QS.Al Ahzab ayat 40.
Allah menurunkan ayat yang menyatakan bahwa nabi Muhammad saw. Tidak usah kuatir tentang cemoohan dan kritikan orang – orang yang mengatakan bahwa beliau mengawini bekas istri anaknya. Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah SWT ke bumi. Firman Allah dalam QS.Al Ahzab ayat 40 menjelaskan bahwa Muhammad itu bukan bapak dari seorang laki – laki,tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.Jelas tidak ada nabi atau rasul sesudah nabi Muhammad.Jadi siapapun yang mengaku nabi atau rasul berarti dia menentang ketetapan Allah swt.
Nabi Muhammad SAW membawa agama Islam yang menyempurnakan agama para Rasul terdahulu.Dalam firman Allah dalam surah Al Maidah ayat 3 menjelaskan bahwa wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.Nabi Muhammad SAW merupakan nabi dan rasul yang membawa agama Islam yang senantiasa sesuai dengan segala perkembangan zaman.Agama yang diridhai Allah hanyalah agama Islam, yaitu agama samawi yang berdasarkan wahyu, disampaikan Allah SWT kepada semua manusia lewat Nabi Muhammad saw.
Bagi umat Islam meyakini nabi Muhammad adalah wajib.Di samping itu banyak keistimewaan yang ada pada Nabi Muhammad dibandingkan dengan rasul sebelumnya.
1.  Risalah yang dibawanya sudah sempurna buat memimpin manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.  Beliau adalah nabi/rasul internasional,risalahnya universal ditujukan kepada seluruh manusia, semua ras, bangsa, dan bahasa sampai ke ujung zaman.

Agama islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw dari Allah SWT dan dipelihara serta dipahami dengan rapi dan teliti sekali oleh para sahabatnya dan orang-orang pada zaman sahabat itu.tepatnya pertama kali islam turun adalah daerah timur,daerah pertama kali mulainya perdaban manusia yaitu daerah Arab Saudi, peran nabi Muhammad sebagai penerima agama islam ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, pada waktu wahyu pertama diturunkan, zamannya nabi sedang porak-poranda dengan dekacauan akhlak orang-orang kafir Quraisydan dri sini lah nabi Muhammad mempunyai peranan penting untuk mengubah dan membenahi kehidupan manusia pada waktu itu yang sama sekali tidak mengenal etika dan bahkan masih menyembah berhala dan mungkin masih dalam proses pencarian tuhan.
Ahli sejarah telah berkata bahwa Muhammad tidak pernah memuja berhala, dia amat benci kepada berhala-berhala itu, dan kepada yang di anut oleh bangsa arab pada waktu itu, akan tetapi beliau sering mengasingkan diri dan berfikir tentang Alam semesta ini serta penciptaannya. setiap tahun beliau mengasingkan diri di Gua Hira, setelah beliau berumur 40 tahun, jibril menyampaikan pengangkatan beliau menjadi Rasul, jibril mengajarkan beliau tentang Agama, pada 17 Ramhadan diturunkannya wahyu pertama kali yaitu 3 ayat dari surat Al-Alaq. kemudian Jibril tidak datang lagi dengan waktu yag lamanya. sementara Muhammad menanti kedatangan jibril pada waktu itu. pada suatu hari beliau ke Gua Hira kembali terdengarlah oleh beliau suara dari langit lalu diangkatlah kepalanya kelangit tampaklah jibril. kemudian pulanglah beliau karena ketakutan dan gemetar, samapainya dirumah kemudian beliau tidur sambil berkata kepada khadizah : “selimutilah aku selimutilah aku “.
dalam keadaan semacam itu  datanglah jibril menyampaikan wahyu surat Al-Mudassir ayat 1-7. ayat inilah yang mula-mula turun sesudah fatrah, artinya sesudah wahyu yang pertama itu berhenti untuk bebrapa lama, dan ayat inilah untuk pertama kali nabi untuk menyerukan Agama Allah. dengan demikian mulailah fase-fase seruan kepada agama yang baru yaitu Islam.[1]

Kemudian secara turun temurun wahyu itu datang untuk membenahi kehidupan manusia, dan setelah nabi menerima Islam nabi sudah mulai mengajak orang-orang disekeliling dia untuk memeluk agama islam, yag diyakini agama yang paling benar dan mempunyai kesempurnaan di setiap bait kitab sucinya yaitu Al-qur’an. tidak mudah menyebarkan Agama Islam pada waktu itu sampai-sampai nabi berfikir dengan cara apalagi agar manusia mampu menerima islam. sesudah beberapa tahun kemudian dan penyebaran agama islam mulai diterima oleh masyarakat arab nabi pun mulai menerapkan nilai-nilai keislaman pada kepemerintahan, dan sampai nabi wafat islam terus berkembang dengan pesat di daerah timur meskipun menemui berbagai kendala, perjuangan nabi di teruskan oleh para sahabat-sahabatnya sampai penyebaran islam mendunia.
Dari segi bahasa Islam berarti damai, tunduk, patuh, pasarah, dan berserah diri.dalam pengertian yang seperti ini seluruh alam semesta dan manusia tunduk dan pasrah kepada tuhan dan hukum-hukumnya ( Sunnatullah ). sebagai agama Islam diyakini oleh para pemeluknya sebagai seperangkat ajaran atau doktrin yang diwahyukan Allah yang disampaikan untuk manusia sebagai petunjuk. sebagai doktrin Islam menggariskan tata hubungan manusia dengan tuhanya, manusia dengan lingkungannya, sumber agama islam yang seperti sudah disebutkan diatas yaitu Al-qur’an dan Sunnah, Al-qur’an memuat pokok-pokok ajaran yang bersifat global, dan sunah berfungsi sebagai penjelas dai Al-qur’an.[2]

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM
Islam dimulai dengan ajaran Muhammad saw., di tempat kelahirannya Mekkah; sifat-sifat yang menjadi ciri agama baru ini dikembangkan setelah beliau pindah ke Madinah dalam tahun 622 M. Sebelumnya beliau wafat sepuluh tahun kemudian, telah jelaslah sudah bahwa Islam bukannya semata-mata merupakan suatu badan kepercayaan agama pribadi, akan tetapi Islam meliputi pembinaan suatu masyarakat merdeka, dengan sistem sendiri tentang pemerintahan, hukum, dan Lembaga Generasi Muslimin pertama, telah menginsafi bahwa Hijrah adalah satu titik perubahan penting dalam sejarah. Merekalah yang menetapkan tahun 622 M sebagai permulaan takwin Islam baru.
Dengan pemerintah yang kuat, cerdas, dan satu kepercayaan yang menggelorakan semangat penganut-penganut dan tentara-tentara dalam waktu yang tidak lama, masyarakat baru ini menguasai seluruh Arabia Barat dan mencari dunia baru untuk ditundukkan.
Setalah nabi wafat muncullah khulafaur Rasydin sebagai penerus perjuangan penyebaran agama islam pada waktu itu. Secara umum Sejarah Islam setelah kematian Nabi Muhammad telah berkembang secara luas di seluruh dunia. Kerajaan Bani Ummaiyyah, Kerajaan Bani Abbasiyyah, dan Kerajaan Turki Utsmani boleh dikatakan penyambung kekuatan Islam setelah pemerintahan Khulafaur Rasyidin.

Khulafaur Rasyidin

§  632 M ‑ Wafatnya Nabi Muhammad dan Abu Bakar diangkat menjadi khalifah.Usamah bin Zaid memimpin ekspedisi ke Syria. Perang terhadap orang yang murtad yaitu Bani Tamim dan Musailamah al-Kadzab.
§  633 M - Pengumpulan Al Quran dimulai.
§  634 M - Wafatnya Abu Bakar. Umar bin Khatab diangkat menjadi khalifah. Penaklukan Damaskus.
§  636 MPeperangan di Ajnadin atas tentara Romawi sehingga Syria,Mesopotamia, dan Palestina dapat ditaklukkan. Peperangan dan penaklukan Kadisia atas tentara Persia.
§  638 M - Penaklukan Baitulmuqaddis oleh tentara Islam. Peperangan dan penkalukan Jalula atas Persia.
§  639 M - Penaklukan Madain, kerajaan Persia.
§  640 M - Kerajaan Islam Madinah mulai membuat mata uang Islam. Tentara Islam megepung kota Alfarma, Mesir dan menaklukkannya.
§  641 M - Penaklukan Mesir
§  642 M - Penaklukan Nahawand, kerajaan Persia dan Penaklukan Persia secara keseluruhan.
§  644 M - Umar bin Khatab mati syahid akibat dibunuh. Utsman bin Affan menjadi khalifah.
§  645 M - Cyprus ditaklukkan.
§  646 M - Penyerangan Byzantium di kota Iskandariyah Mesir.
§  647 M - Angkatan Tentara Laut Islam didirikan & diketuai oleh Muawiyah Abu Sufyan. Perang di laut melawan angkatan laut Byzantium.
§  648 M - Pemberontakan menentang pemerintahan Utsman bin Affan.
§  656 M - Utsman mati akibat dibunuh. Ali bin Abi Talib dilantik menjadi khalifah. Terjadinya Perang Jamal.
§  657 M ‑Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah keKufah. Perang Siffin meletus.
§  659 M ‑Ali bin abi Thalib menyerang kembali Hijaz dan Yaman dari Muawiyah. Muawiyah menyatakan dirinya sebagai khalifah Damaskus.
§  661 M - Ali bin Abi Thalib mati dibunuh. Pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir. Hasan (Cucu Nabi Muhammad) kemudian diangkat sebagai Khalifah ke-5 Umat Islam menggantikan Ali bin Abi Thalib.
§  661 M - Setelah sekitar 6 bulan Khalifah Hasan memerintah, 2 kelompok besar pasukan Islam yaitu Pasukan Khalifah Hasan di Kufah dan pasukan Muawiyah di Damsyik telah siap untuk memulai suatu pertempuran besar. Ketika pertempuran akan pecah, Muawiyah kemudian menawarkan rancangan perdamaian kepada Khalifah Hasan yang kemudian dengan pertimbangan persatuan Umat Islam, rancangan perdamaian Muawiyah ini diterima secara bersyarat oleh Khalifah Hasan dan kekhalifahan diserahkan oleh Khalifah Hasan kepada Muawiyah. Tahun itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Perdamaian/Persatuan Umat (Aam Jamaah) dalam sejarah Umat Islam. Sejak saat itu Muawiyah menjadi Khalifah Umat Islam yang kemudian dilanjutkan dengan sistem Kerajaan Islam yang pertama yaitu pergantian pemimpin (Raja Islam) yang dilakukan secara turun temurun (Daulah Umayyah) dari Daulah Umayyah ini kemudian berlanjut kepada Kerajaan-Kerajaan Islam selanjutnya seperti Daulah Abbasiyah, Fatimiyyah, Usmaniyah dan lain-lain.[3]

Setelah sedikit kemunduran pada wafat Muhammad saw., gelombang penaklukan bergerak dengan cepat di Arabia bagian Utara dan Timur, berani menyerang kubu-kubu pertahanan di perbatasan kerajaan Romawi Timur di Syirq al-Ardun dan kerajaan Persia di Irak. Selatan. Angkatan-angkatan perang kedua kerajaan raksasa ini –karena perang tidak henti-hentinya– telah kehabisan kekuatan, dikalahkan satu-persatu dalam suatu rangkaian operasi cepat dan cemerlang. Dalam waktu enam tahun sesudah Muhammad saw. wafat, seluruh Siria dan Irak diharuskan membayar upeti kepada Madinah, dan empat tahun kemudian Mesir digabungkan pada kerajaan Islam baru.
Kemenangan-kemenangan yang mengagumkan tadi, mendahului kemenangan yang lebih besar lagi akan membawa orang Arab dalam waktu kurang dari satu abad ke Maroko, Spanyol, Perancis, pintu-pintu kota Konstantinopel, jauh ke Asia Tengah sampai ke Sungai Indus, membuktikan sifat Islam sebagai suatu kepercayaan kuat, insaf akan harga diri, dan jaya. Sifat ini mengakibatkan pendirian yang tidak kenal menyerah dan memusuhi segala yang ada diluarnya, tetapi menunjukkan toleransi, kesabaran hati yang luas dalam pelbagai masyarakat, keseganan menuntut orang dari golongan lain, dan kebesaran hati mereka dalam waktu kegelapan.
Pada tahun 660 M. ibu kota Kerajaan Arab dipindahkan ke Damsyik, tempat kedudukan baru Khalifah Bani Umayah. Sedangkan Madinah tetap merupakan pusat pelajaran agama Islam; pemerintah dan kehidupan umum kerajaan dipengaruhi oleh adat-istiadat Yunani Rumawi Timur. Tingkat pertama saling pengaruh-mempengaruhi dengan peradaban yang lebih tua ini tidak hanya dilambangkan dengan dua buah monumen, yang indah sekali dari zaman Bani Umayahh ialah Mesjid Raya di Damsyik dan Mesjid Al-Aqsa di Darusalam, akan tetapi kemunculan tiba-tiba cara aliran-aliran baru dan pendapat yang berlawanan dengan paham resmi di “propinsi-propinsi baru.” Akibat paling akhir dari pertumbuhan demikian ialah perpecahan antara lembaga-lembaga agama dan duniawi dalam masyarakat Islam. Pembelahan ini merusakkan azas duniawi Bani Umayah, dan ditambah dengan rasa ketidakpuasan para warga negara bukan Arab, dan pecah perang saudara diantara suku, Arab, menyebabkan jatuhnya tahun 750 M.
Dalam pada itu, perselisihan tadi menjelaskan bahwa dalam abad yang lampau sejak wafat Muhammad saw. kebudayaan agama Islam telah mengalami perkembangan dan konsolidasi yang luar biasa, baik, di dalam maupun di luar Arabia. Seorang guru agama di satu pihak menunjukkan perkembangan kebatinan pada tingkat tertinggi. Ia menyatakan inti sari yang penting dan menghidupkan itu dengan kepribadiannya dan keyakinannya sehingga tampak pada penganutnya sebagai wahyu kebenaran baru..
Itulah sumbangan asasi yang menentukan dari orang Arab terhadap kebudayaan Islam baru. Terhadap peradaban materiil sokongan mereka sedikit. Kemajuan materiil baru mulai; dengan cemerlang setelah Bani Abbas menggantikan Bani Umayah sebagai khalifah, dan mendirikan ibu kotanya yang baru di Baghdad dalam tahun 762 M. Masa pertama dari penaklukan wilayah luar Arabia telah lampau, disusul oleh masa perluasan ke dalam. Abad kesembilan dan kesepuluh Masehi menyaksikan puncak kemajuan peradaban Islam yang luas dan usaha-usaha yang berhasil. Kerajinan, perdagangan, kesenian bangunan, dan beberapa kesenian yang kurang penting, berkembang dengan subur waktu Persia, Mesopotamia, Siria, dan Mesir, memberikan sokongan mereka dalam usaha serentak.[4]


















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Agama islam merupakan agama yang diturunkan kebumi untuk manusia dan bertujuan untuk menyempurnakan akhlaq manusia dan adanya batasan tingkah laku dalam kehidupan, islam dipercayai sebagai Agama yang paling benar dan mempunyai keistimewaan tersendiri di bandingkan dengan agama-agama lain.
Dengan sumber yang jelas dan masih terjaga keasliannya islam menjadi sumber kekuaatan untuk mengembangkan daya intelektual muslim dan mampu menjadikan dunia dalam zona perdamaian .

DAFTAR PUSTAKA

·        Rifai, Moh  “ Perbandingan Agama “ semarang ,Wicaksana
·        Mathar, Qasim  “ Sejarah, Teologi dan Etika-etika Agama-agama “  interfidei
·        http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Islam . 01 november 2011 jam 20.02







[1] Drs.Moh.Rifai “ Perbandingan Agama “ semarang ,Wicaksana
[2] Dr.H Moch. Qasim Mathar “ Sejarah, Teologi dan Etika-etika Agama-agama “  interfidei
[3] diakses di  http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Islam  pada 01 november 2011 jam 20.02

PERIODISASI DAN MOTIF ORIENTALISME



 Periode Orientallisme
Secara kasar Orientalisme itu dibagi menjadi tiga periode:
Periode pertama, ialah periode yang dimana Dunia Orientalisme memandang Islam dengan segala aspeknya dengan pandangan jijik, permusuhan dan benci.
Periode kedua, ialah periode dimana Dunia Orientalisme memandang Islam dengan segala aspeknya dengan pandangan bimbang dan confusion tentang kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Periode ketiga, ialah periode dimana dunia Orientalisme menghampiri Islam dengan segala aspeknya dengan penghampiran ilmiah.
Kemudian Prof. H. Ismail Ja’kub,Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya di dalam bukunya dia membagi tahapan kaum orientalisme menjadi empat periode:
a. periode Benci,
b. periode Sangsi,
c. periode Mendekat,
d. periode Toleransi.
Motif-motif Orientalisme
Banyak sekali para ilmuwan-ilmuwan yang mengungkapkan motif-motif orientalisme sendiri. Diantaranya yaitu: Prof. Dr. Ali Hsni Al-Kharbuthly, seorang guruh besar di ‘Ain Syams dalam bukunya al-mustasyriqun wa ‘t-Tarikhu ‘I-Islami(kaum orientalis dan sejarah Islam ialah:
a.       Untuk kepentingan penyebaran agama Kristen
b.      Untuk kepentingan penjajahan
c.       Untuk kepentingan  ilmu pengetahuan semata-mata.
Dalam buku al-Istisyraq wa ‘i-Mustasyriqun(Orientalis dan kaum Orientalisten) karya Dr.Mustafa As-Sibaa’i. salah seorang  ketua jurusan Fiqh Islam di Universitas damaskus ,menerangkan bahwa motif orientalis barat mempelajari ketimuran umumnya dank e-islaman khususnya ialah sebagai berikut:
a.       Dorongan keagamaan
b.      Dorongan penjajahan
c.       Dorongan ilmiah.





TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER
ORIENTALISME BAB III


                                                                         Description: Description: LOGO UIN
Oleh:
 Zubaidi
(10520015)



             JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN, STUDY AGAMA
                   DAN PEMIKIRAN ISLAMUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
                                                                             YOGYAKARTA


REFERENSI
Siswanto Masruri,        
                   “BAHAN AJAR ORIENTALISME” ,FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUNAN KALIJAGA. 2009
           
           






Thursday, December 29, 2011

makalah tentang Teologi Islam



'Ilm al-kalam (harfiah' ilmu perdebatan ') menunjukkan suatu disiplin pemikiran Islam umumnya disebut sebagai' teologi 'atau (bahkan kurang akurat) sebagai' teologi skolastik '. Disiplin, yang berevolusi dari kontroversi politik dan agama yang melanda masyarakat Muslim di, yang kesepakatan tahun formatif dengan interpretasi ajaran agama dan pertahanan dari interpretasi dengan cara argumen diskursif.

Munculnya kalam datang berhubungan erat dengan Mu'tazilah, sebuah sekolah rasionalis yang muncul pada awal abad kedua ah (ad abad ketujuh) dan bangkit untuk menonjol di abad berikutnya. Kegagalan Mu'tazilah untuk menindaklanjuti naiknya awal mereka intelektual dan politik dengan memaksakan pandangan mereka sebagai doktrin resmi negara rasionalisme serius didiskreditkan, mengarah ke kebangkitan tradisionalisme dan kemudian munculnya sekolah Ash'ariyya, yang berusaha untuk menyajikan dirinya sebagai kompromi antara dua ekstrem yang berlawanan. Sekolah Asy'ariyah diperoleh penerimaan dalam mainstream (Sunni) Islam. Namun, kalam terus dikutuk, bahkan dalam pakaian 'ortodoks', oleh sekolah-sekolah tradisional-cenderung dominan.

Pada stadium lanjut ini, kalam berusaha untuk mengasimilasi tema filosofis dan pertanyaan, namun pergeseran halus dalam arah ini tidak sepenuhnya berhasil. Penurunan kalam tampaknya ireversibel, dijauhi seperti yang oleh kaum tradisionalis dan rasionalis sama. Meskipun kalam teks terus dibahas dan bahkan diajarkan di beberapa bentuk, kalam berhenti menjadi ilmu yang hidup pada awal abad kesembilan ah (ad abad kelima belas). Upaya untuk menghidupkan kembali oleh reformis, dimulai pada abad kesembilan belas, belum berbuah.

    Pra-Mu'tazilah kelompok
    Mu'tazilah dan bangkit dari kalam
    Tema Utama
    Metodologi kecenderungan
    Kemudian evolusi dan penurunan
    Kesimpulan

1. Pra-Mu'tazilah kelompok

Istilah kalam biasanya sudah diterjemahkan sebagai 'kata' atau 'berbicara', tapi render lebih tepat dalam konteks ini akan 'diskusi', 'argumen' atau 'debat'. Mereka yang terlibat dalam diskusi-diskusi atau perdebatan-perdebatan yang disebut sebagai mutakallimun (orang-orang yang berlatih kalam atau debat). Istilah ini memiliki makna khusus dalam tradisionalis setuju diskusi ini, menyatakan bahwa umat Islam awal tidak diketahui telah larut di dalamnya. Mereka yang berkecimpung dalam perdebatan semacam itu dikatakan telah 'berbicara tentang' atau 'dibahas' (takallma fi) topik 'terlarang'. Para pendukung kalam juga suka menyebutnya sebagai 'ilm al-ushul (ilmu prinsip-prinsip dasar) atau' ilm al-tauhid (ilmu [menegaskan Allah] kesatuan), dan itu adalah di bawah ini nama yang terakhir bahwa beberapa topik yang terus diajarkan dan dibahas dalam lembaga pendidikan Islam saat ini.

Munculnya 'ilm al-kalam adalah hasil dari banyak kontroversi yang telah membagi komunitas Muslim di tahun-tahun awal. Meskipun munculnya Islam ditandai dengan polemik dengan musyrik dan pengikut wahyu sebelumnya, kontroversi atas pertanyaan-pertanyaan agama yang mendasar dianggap tidak sopan oleh umat Islam awal, terutama selama masa Nabi. Namun, perselisihan (terutama politik) pecah segera setelah kematian Nabi, dan lagi setelah peristiwa tragis yang menyebabkan pembunuhan Khalifah Othman ketiga di ah 35 / 656 iklan, kali ini gemborkan kerusakan sistem politik yang mapan setelah kematian Nabi.

Dalam sebuah komunitas yang mendefinisikan dirinya dalam hal identitas keagamaannya, perselisihan politik yang pasti berubah menjadi teologis. Perjuangan politik atas siapa yang harus memimpin komunitas Muslim memunculkan tiga kelompok bersaing utama: Khawarij, yang menentang keempat Khalifah 'Ali dan menolak kompromi yang dia buat dengan lawan-lawannya, kaum Syi'ah, yang mendukung' Ali, dan Murjiya, yang mencoba untuk tetap netral. Kelompok-kelompok ini berusaha untuk mempengaruhi komunitas Muslim yang lebih didominasi oleh kelompok longgar sekolah umum, terutama konservatif atau tradisionalis, yang dikenal sebagai ahl al-sunnah wa-jama'ah (para pendukung tradisi [Nabi] dan konsensus).

Para Khawarij panjang (secara harfiah 'pemberontak') pertama disebut kelompok pembangkang yang memberontak terhadap kepemimpinan 'Ali setelah perang Siffin tidak meyakinkan (ah 37 / 658 iklan) antara' Ali dan penantang, Mu'awiyah, dan kemudian berkembang menjadi kecenderungan anti-kemapanan yang berbeda. Khawarij ternyata tidak memiliki kepemimpinan terpadu atau doktrin menetap, dan terutama kecenderungan politik militan dengan sikap tanpa kompromi. Inti dari pandangan mereka berkisar sifat kepemimpinan yang sah dan kondisi untuk keselamatan. Meskipun pandangan tanpa kompromi the Khawarij mengecam mereka ke eksistensi marjinal, dampaknya pada tubuh umum dari komunitas Muslim yang signifikan. Sebagian besar sekolah-sekolah utama pemikiran yang muncul melakukannya dalam menanggapi satu atau lain dari pernyataan mereka, terutama pada isu-isu kepemimpinan dan 'status orang berdosa'.

Pada kutub yang berlawanan berdiri Syiah (partai) 'Ali. Berbeda dengan Khawarij, yang menentang semua otoritas, Syiah percaya pada otoritas tak terbantahkan dari ilahi imam (pemimpin). Posisi 'Ali sebagai imam dan penerus Nabi telah dipercayakan oleh wahyu dan bukan masalah pendapat. Setiap imam kemudian akan menunjuk penggantinya berdasarkan otoritas ilahi diberikan di dalam dirinya. Secara teori, Syiah seharusnya tidak mendorong banyak spekulasi teologis, karena berusaha untuk melestarikan dan mereproduksi otoritas Nabi dan rompi itu dalam pribadi imam yang hidup, yang memiliki akses langsung ke kebenaran ilahi. Dalam prakteknya, bagaimanapun, Syiah tidak memanjakan diri dalam spekulasi teologis, terutama dengan munculnya doktrin Imam Absen, yang disebut beban mencari kebenaran kembali ke masyarakat.

Di antara dua ekstrem, sejumlah besar posisi perantara yang dianut, terutama yang dari Murjiya. Kelompok ini menolak untuk mengutuk para pelaku dosa besar (sebuah eufemisme untuk perampas kekuasaan) sebagai orang kafir, tetapi tidak ingin melakukannya untuk membebaskan mereka, dengan alasan bahwa masalah ini harus diserahkan kepada Allah untuk menghakimi di akhirat. Murjiism juga terkait dengan netralitas politik, dan dukungan diam-diam tersirat untuk status quo.

Sementara tiga di atas kelompok politik di asal, mengadopsi argumen teologis untuk mendukung politik mereka, ada juga kelompok yang fokus utama adalah pada teologi. Awal ini adalah Qadariyya (nama, yang berarti pendukung qadar, atau predestinasi, adalah keliru untuk sekolah yang mendukung kebebasan kehendak). Sekolah ini berpendapat untuk kebebasan mutlak kehendak. Tuhan, anggotanya mengatakan, tidak akan menempatkan kita manusia di bawah kewajiban untuk bertindak dengan benar jika kita tidak memiliki kekuatan untuk memilih tindakan kita saja.

Bertentangan dengan sekolah ini adalah Jabriyya (determinis). Juru bicara mereka yang paling menonjol adalah Jahm bin Safwan (w. 128 ah / ad 746), yang mengajarkan bahwa tidak ada atribut bisa didasarkan Allah, kecuali untuk penciptaan, kekuasaan dan tindakan, karena setiap atribut yang dapat dipredikatkan makhluk itu tidak cocok menjadi dipredikatkan Sang Pencipta. Sebagaimana Allah adalah Pencipta tunggal dan aktor, tindakan kita juga ditulis oleh dia sendiri, karena itu, kita sebagai orang-orang yang tidak memiliki kontrol atas tindakan kita dan tidak ada kehendak bebas. Jahm juga mengatakan bahwa karena Tuhan tidak dapat digambarkan sebagai pembicara, Al Qur'an tidak bisa dikatakan firman-Nya, kecuali dalam arti memiliki diciptakan oleh-Nya.
2. Mu'tazilah dan bangkit dari kalam

Sekolah-sekolah ini sebelumnya adalah kelompok amorf, sangat fluida baik dalam keanggotaan dan doktrin. Dengan pengecualian dari Syiah, yang kemudian berkembang menjadi beberapa sekte yang koheren, kecenderungan-kecenderungan baik memudar atau digabung menjadi kecenderungan lainnya. Munculnya wacana teologis yang sistematis harus menunggu munculnya Mu'tazilah. Asosiasi kalam dengan Mu'tazilah, yang ditandai dengan elitisme dan rasionalisme militan mereka, tentu saja ditentukan dan akhirnya nasib nya. Mu'tazilah berusaha untuk sistematisasi doktrin agama ke dalam skema rasional berpusat pada penegasan kesatuan mutlak Allah dan keadilan mutlak (lihat Ash'ariyya dan Mu'tazilah ).

Namun, elitisme Mu'tazilah dan sopan pencarian mereka untuk 'alasan untuk segala sesuatu,' untuk parafrase al-Shahrastani, terasing kecenderungan arus utama yang lebih konservatif. Yang terakhir ini mempertanyakan kemungkinan yang sangat dari wacana teologis dari jenis yang dianjurkan oleh Mu'tazilah, terlepas dari konten, melihat wacana seperti pada berlebihan terbaik dan paling buruk deviasi sesat. Sikap ini dinyatakan secara ringkas oleh Malik ibn Anas (w. 179 ah / ad 795), ahli hukum terkemuka Madinah, ketika ditanya untuk menjelaskan bagaimana Tuhan bisa dikatakan telah 'membuktikan dirinya pada Tahta' sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an : "Pembentukan diketahui, modalitas tidak diketahui, keyakinan di dalamnya adalah wajib dan bertanya tentang hal itu adalah sebuah inovasi tidak beralasan." Pada pertanyaan tentang keadilan ilahi, kaum tradisionalis menolak upaya Mu'tazilah untuk menerapkan konsep-konsep manusia dan rasional keadilan pada Allah. Ini akan menjadi tidak berarti berbicara tentang keadilan dalam konteks ini, karena Tuhan adalah tuan yang mutlak berdaulat dan mutlak dari semua ciptaan-Nya, yang berarti bahwa segala sesuatu yang Ia lakukan adalah menurut definisi hanya (lihat Mahakuasa § 5 ).

Perjuangan antara dua tren datang ke kepala di 'penciptaan Al-Qur'an' kontroversi yang meletus pada paruh pertama abad ketiga ah (abad kesembilan iklan). The 'Inkuisisi' yang menghasut Mu'tazilah dengan bantuan penguasa hari, Khalifah al-Ma'mun (198-218 ah / iklan 813-33), untuk menegakkan doktrin ini dan terkait terbukti bencana, tidak hanya untuk Mu'tazilah tetapi juga untuk disiplin kalam itu sendiri. Meskipun menjadi direklamasi untuk ortodoksi oleh Abu'l-Hasan al-Asy'ari dan lain-lain, ilmu dan seni berdebat masalah iman dengan daya tarik untuk alasan telanjang manusia jatuh ke dalam kehinaan dan pergi ke penurunan dari awal keenam abad.
3. Tema Utama

Definisi klasik cenderung menekankan fungsi apologetis kalam, mungkin untuk meredakan kritik tradisionalis. Al-Iji berbicara tentang 'ilmu pengetahuan yang memungkinkan untuk membuktikan kebenaran dari doktrin-doktrin keagamaan dengan marshalling argumen dan menolak keraguan' ( Al-Mawaqif: 7 ). Kalam, bagaimanapun, juga menjadi arena pertempuran yang benar atas apa yang merupakan doktrin agama terjadi antara sekolah saingan.

Subyek kalam, mengutip al-Iji lagi, adalah 'pengetahuan yang bukti dari doktrin agama tergantung, secara langsung atau tidak langsung "( Al-Mawaqif: 7 ). Hal itu juga mengatakan untuk berurusan dengan 'ushul (dasar), sebagai lawan furu' (masalah anak). Ini termasuk dasar-dasar keyakinan agama, seperti Tuhan, atribut-Nya dan bertindak, bukti doktrin agama, sifat alam semesta dan tempat kita di dalamnya.

Masalah pertama yang dibagi Muslim ke dalam sekolah menentang adalah pertanyaan tentang otoritas politik dan legitimasinya. Kebanyakan tradisionalis dan mainstream sekolah menerima prosedur yang sebenarnya diadopsi untuk memilih empat khalifah pertama sebagai normatif, sehingga menegaskan bahwa seorang penguasa keuntungan dengan menjadi legitimasi yang dipilih secara bebas oleh anggota masyarakat yang berpengaruh. Khawarij menerima prosedur sampai dengan pemilihan khalifah ketiga, tetapi kemudian menambahkan bahwa bahkan khalifah terpilih harus dihapus jika ia menyimpang dari mandatnya. Khawarij juga menyatakan bahwa setiap individu yang memenuhi syarat sangat cocok menjadi khalifah, diberikan masyarakat pada umumnya disetujui dia. Para tradisionalis mempersempit bidang seleksi untuk suku Nabi, Quraisy, sementara Syiah menyempit masih lebih lanjut untuk keluarga Nabi, khususnya anak-dalam-hukum-Nya 'Ali dan keturunannya yang terakhir. Syi'ah berpendapat bahwa kepemimpinan politik, menjadi lembaga keagamaan yang paling penting, tidak bisa dibiarkan karena alasan manusia untuk menentukan.

Masalah utama kedua yang akan dibahas dalam kalam adalah status dari orang berdosa kuburan. Khawarij dimulai perdebatan ini dengan menyatakan, bertentangan dengan pendapat mainstream, bahwa setiap orang yang melakukan dosa besar secara otomatis menjadi percaya-non, sehingga mengorbankan semua hak dan perlindungan yang diberikan oleh hukum Islam. Para Murjiya berpendapat untuk menahan penghakiman sementara cenderung memperluas interpretasi yang bisa memenuhi syarat sebagai orang percaya, sedangkan Mu'tazilah berpendapat bahwa orang semacam itu berada dalam posisi tengah, tidak menjadi seorang Muslim atau kafir.

Masalah utama ketiga yang dibahas dalam kalam adalah kebebasan kehendak. Mu'tazilah dan Qadariyya baik keluar secara tegas mendukung kebebasan kehendak. Mereka menyatakan bahwa kita adalah pencipta perbuatan kita sendiri, karena jika tidak Allah akan melakukan sebuah ketidakadilan kuburan jika ia menghukum mereka yang punya pilihan dalam apa yang mereka lakukan (lihat Kejahatan, masalah § 3 ; akan gratis ). Pada ekstrem yang lain, yang diadakan Jabriyya bahwa manusia tidak bisa memiliki kontrol atas tindakannya, karena Allah adalah pencipta tunggal dan aktor. Kebanyakan kelompok lain mencoba untuk menyerang keseimbangan antara kedua kutub. Syiah cenderung untuk menegaskan kebebasan kehendak dan beberapa dari mereka, seperti Zaydiyya, setuju sepenuhnya dengan Mu'tazilah ini. Beberapa fraksi Syiah, bagaimanapun, berkualitas sikap mereka dengan menegaskan bahwa kita sebagian dipaksa karena rantai sebab-akibat yang memicu tindakan kita. Khawarij menerima gagasan predestinasi, memegang bahwa Allah adalah Pencipta dari tindakan orang, dan tidak ada yang terjadi yang tidak ia akan.

Ini juga pandangan ortodoks arus utama dan kelompok-kelompok tradisionalis, yang menegaskan bahwa kehendak Allah adalah tertinggi dan bahwa ia adalah pencipta dari semua tindakan manusia, apakah jahat atau baik; tidak ada yang bisa terjadi di bumi yang bertentangan kehendaknya. Posisi ini kemudian diberi beberapa nuansa oleh al-Asy'ari, yang berpendapat bahwa Allah menciptakan perbuatan manusia, tetapi kita memperoleh (kasaba) ini bersedia bertindak dengan mereka sebelum penciptaan mereka.

Isu utama keempat yang dibahas dalam kalam adalah pertanyaan tentang atribut ilahi. Para Jabriyya menggunakan penegasan keunikan atribut Tuhan untuk menyangkal keberadaan kehendak bebas. Mu'tazilah mengembangkan ide lebih lanjut, dengan alasan bahwa Allah tidak dapat memiliki atribut selain esensi-Nya, karena ini akan berarti banyaknya entitas yang kekal. Kemudian Mu'tazilah, seperti Abu'l-Hudhayl ​​al-'Allaf (w. 227 ah / ad 842), menambahkan bahwa atribut ilahi yang identik dengan esensi ilahi. Pengetahuan Tuhan bukan merupakan atribut ditambahkan ke esensinya, tetapi identik dengan esensi yang.

Awal teolog Syiah menentang Mu'tazilah, menegaskan imanensi Allah dalam ruang dan menyangkal kekekalan dan transendensi waktu dan ruang. Mereka berpendapat bahwa kehendak Allah juga bisa berubah, dan berasal gerak padanya. Tuhan juga bisa menjadi tempat kecelakaan (hawadith) dan jasmani dalam beberapa pengertian. Pengetahuan Tuhan dan tidak akan bisa kekal, karena ini akan meniadakan kebebasan manusia dan membuat pertanggungjawaban berlebihan. Hal ini juga bisa berarti keberadaan kekal dari hal. Kemudian teolog Syiah, bagaimanapun, terutama Zaydiyya, menolak sebagian besar Anthropomorphisms pendahulu mereka dan berbelok ke arah posisi Mu'tazilah.

Tradisionalis (yang termasuk Ash'ariyya) menegaskan realitas atribut Allah yang abadi, yang mereka katakan tidak identik dengan Dzat-Nya atau yang berbeda dari itu. Mereka juga menegaskan arti harfiah dari referensi Al-Quran ternyata antropomorfis, seperti mereka yang 'wajah' Allah, 'tangan' dan 'mata', menambahkan bahwa sifat yang tepat dari anggota badan ini tidak dapat diketahui.

Terkait dengan masalah atribut ilahi adalah masalah penciptaan Alquran. Mu'tazilah membantah bahwa kata-kata Allah yang kekal dan menegaskan bahwa Al Qur'an harus diciptakan; ide ini diterima juga oleh kaum Khawarij. Namun, sebagian besar kaum tradisionalis (dan Ash'ariyya) menolak pandangan ini, dengan alasan bahwa seseorang tidak bisa menggambarkan Allah sebagai pidato diciptakan karena ini akan berarti bahwa Allah tunduk pada negara berubah. Pidato (kalam) adalah salah satu dari atribut Allah yang abadi, dan Al Qur'an, yang firman Allah, tidak bisa dikatakan dibuat atau diciptakan. Beberapa teolog Syi'ah awal, di bin Hisyam khususnya al-Hakam (w. c. ah 200 / ad 816), mengembangkan sebuah versi yang lebih canggih dari argumen terakhir, mengatakan bahwa Al-Qur'an (atau firman Allah) tidak dapat digambarkan sebagai pencipta, dibuat atau diciptakan, karena atribut, menjadi kata sifat, tidak bisa lagi didasarkan sifat itu. Demikian pula, seseorang tidak bisa mengatakan tentang atribut Allah bahwa mereka kekal atau kontingen.

Selain tema-tema utama, kalam menyentuh pada isu-isu terkait seperti apakah Allah bisa dilihat di akhirat (dengan Mu'tazilah menolak ini, sementara lawan mereka menegaskan visi ceria), sifat dan batas-batas iman, apakah api neraka dan surga yang kekal , dan sifat dan batas-batas pengetahuan Allah, akan dan kekuasaan. Dimulai dengan 'Allaf, beberapa tema filsafat diperkenalkan ke kalam, khususnya pembahasan pertanyaan seperti sifat dan klasifikasi pengetahuan dan sifat gerakan, badan dan hal-hal. Ia bahkan melanjutkan untuk membahas pertanyaan-pertanyaan milik ilmu-ilmu lain, seperti biologi, psikologi dan kimia, serta berbagai investigasi logis. Namun, hal ini perluasan ruang lingkup kalam bertepatan dengan penurunan dan tidak menyebabkan kemajuan signifikan dalam bidang ini.
4. Metodologi kecenderungan

Kalam umumnya ditangani baik dengan mencoba untuk membenarkan keyakinan agama untuk alasan, atau dengan menggunakan alasan untuk menarik kesimpulan baru dan konsekuensi dari keyakinan ini. Doktrin-doktrin terdiri dari tiga komponen utama: artikulasi dari apa yang sekolah dianggap sebagai keyakinan dasar, pembangunan kerangka spekulatif di mana keyakinan ini harus dipahami, dan usaha untuk memberikan pandangan koherensi ini dalam kerangka spekulatif diterima.

Berbagai sekolah kalam setuju dengan tradisionalis dalam menerima otoritas teks sebagai dasar dari komponen pertama. Mereka tidak setuju, Namun, tentang sejauh mana teks-teks ini harus dikenakan analisis 'rasional'. Tradisionalis selalu menduga bahwa 'alasan' yang dimaksud sebenarnya kecerdasan tersangka kafir bidat, mengapa lain yang akan percaya ingin menyeret artikel iman di depan pengadilan akal manusia, bisa keliru dan terbatas seperti itu? Kecurigaan tradisionalis pengaruh non-Islam di balik setiap 'bidat' awal kalam-ist telah direproduksi oleh para peneliti modern, yang mencari asal asing untuk setiap ide yang dinyatakan dalam kalam (lihat Orientialism dan filsafat Islam ). Namun, dampak dari pengaruh non-Islam pada evolusi dari sekolah kalam, meskipun tak dapat disangkal, dengan mudah bisa dibesar-besarkan. Banyak tema-tema kalam 's awal, seperti status orang berdosa atau pertanyaan tentang legitimasi politik, tampaknya telah muncul dalam konteks Islam murni.

Mengenai komponen kedua, kerangka spekulatif, kelompok-kelompok awal tidak ereksi sistem yang rumit. Hal ini dengan Mu'tazilah bahwa kita menemukan upaya pertama untuk membangun sistem tersebut, didasarkan pada lima prinsip mereka (kesatuan ilahi, keadilan ilahi, peringatan ilahi, status perantara dan memerintahkan kebajikan dan keputusasaan wakil). Mu'tazilah juga membawa bersama mereka sikap keyakinan mutlak pada akal manusia dan akibatnya kurangnya penghormatan bagi otoritas teks-teks, yang menantang mereka secara teratur.

Komponen ketiga, kohesi pandangan dalam kerangka spekulatif, juga datang ke menonjol dengan Mu'tazilah, yang mencoba untuk melakukan sistematisasi tubuh keyakinan agama dan menyelaraskan komponen-komponennya, memprovokasi kontroversi yang intens karena mereka berusaha untuk menafsirkan kembali elemen-elemen kunci dari ortodoksi di Untuk mencapai hal ini. Usaha di sistematisasi pasti menyebabkan meningkatkan pertanyaan filosofis. Kemudian pemikir Mu'tazilah, seperti al-'Allaf dan Ibrahim al-Nazzam (w. 231 ah / 846 iklan), tercermin dalam tesis mereka pengaruh diterjemahkan teks filsafat Yunani dan disebarkan pandangan dunia dipengaruhi oleh spekulasi Helenistik (lihat filsafat Yunani : dampak pada filsafat Islam ). Sekolah Asy'ariyah, terutama al-Juwaini dan al-Ghazali , secara resmi memperkenalkan alat-alat logika Aristotelian dalam metodologi kalam (lihat Logika dalam filsafat Islam ).

Ini pengenalan tema filosofis dan metode dan tenaga kerja dari logika formal dalam tradisi Aristotelian mewakili perkembangan yang signifikan dalam kalam. Sebelum itu, argumen kalam telah menggunakan analisis tekstual dan linguistik sebagai alat utama mereka. Namun, meskipun ini forays ke spekulasi filosofis dan tenaga kerja dari logika Aristotelian, kalam tetap tegas berlabuh dalam kerangka khusus Islam. Teks otoritatif secara rutin dikutip untuk meraih argumen, sementara tuduhan bid'ah dianggap konklusif sanggahan argumen apapun.

Bahkan tanpa bantuan filsafat, bagaimanapun, Ash'arism dibawa ke kalam skeptisisme yang tajam yang memiliki dampak yang sehat pada bidang argumen rasional. Skeptisisme ini dibawa ke panjang besar oleh al-Ghazali, yang menggunakannya untuk menghancurkan Neoplatonisme bingung para filsuf Hellenizing. Pendekatan ini memiliki potensi untuk berkontribusi lebih banyak untuk kemajuan pengetahuan dari pengulangan dogmatis tesis filosofis, tetapi potensi itu tidak akan terwujud karena para praktisi kalam lebih tertarik dalam menghancurkan argumen lawan mereka 'dari dalam membangun alternatif yang layak.
5. Kemudian evolusi dan penurunan

Penurunan kalam berjalan dengan cepat dari abad kelima ah (ad abad kesebelas), menetap oleh ah abad kesembilan (lima belas abad ke-iklan) ke dalam teks dogmatis yang kaku, untuk parafrase al-Ghazali, diajarkan dogma serta 'formal bukti ', yang tidak sama dengan membuktikan itu benar. Ini penurunan kalam menjadi terlalu jelas untuk diabaikan bahkan oleh para praktisi. Al-Iji komentar bahwa keengganan untuk disiplin dalam waktu yang dimaksudkan terlibat di dalamnya telah menjadi 'antara mayoritas hal tercela "( Al-Mawaqif: 4 ). Ibnu Khaldun , yang lain menulis Asy'ariyah selama periode yang sama (c ah 779 / iklan 1377)., menyesalkan fakta bahwa kalam telah memburuk dan menjadi bingung dengan filsafat, di atas menjadi berlebihan karena ajaran sesat itu dimaksudkan untuk memerangi telah punah.

Namun, kalam 'masalahnya tidak begitu banyak fusi dengan filsafat sebagai kegagalan untuk berkembang menjadi sebuah sistem filsafat yang lengkap dengan bingkai sendiri lengkap acuannya. Evolusi mungkin dalam arah ini telah terputus oleh sejumlah faktor. Pertama, ada celah yang berkembang di antara kalam sebagai suatu disiplin dan filsafat yang tepat; ini disebabkan sebagian oleh penurunan dari Mu'tazilah, sekutu alami dari filsafat. Selain itu, kegagalan Mu'tazilah untuk mengembangkan bahasa yang sama dengan lawan mereka, sehingga mengubah kalam menjadi semacam pengejaran sektarian bukan disiplin, itu digandakan oleh para filsuf. Penghormatan kuasi-religius ditunjukkan oleh filosof Muslim awal untuk teks Yunani menempatkan mereka bertentangan dengan pikiran utama, menyebabkan mereka untuk berperilaku seperti hanya sekte lain. Hal ini membatasi interaksi antara kalam dan filsafat, karena masing-masing diperlakukan prinsip-prinsip dasar dan teks sebagai "suci" dan bukan sebagai tesis yang bisa mereka dipertanyakan. Munculnya filsafat sehingga datang baik dengan mengorbankan kalam dan dalam oposisi untuk itu, dan antagonisme ini rusak baik.

Kalam juga dirusak oleh munculnya pro-tradisionalis kecenderungan dalam disiplin itu sendiri. Sulit untuk mendamaikan wacana rasionalis kuat dengan posisi tradisionalis, yang mempertanyakan berkecil hati di daerah banyak kunci dan bahkan menasihati persetujuan dalam kontradiksi nyata. Pada tingkat lain, kebangkitan tradisionalisme bawah Ahmad bin Hanbal dan kebangunan rohani berikutnya di bawah Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya adalah anti-kalam, tidak hanya menolak tesis tetapi metode sebagai laknat. Barisan belakang tindakan diperjuangkan oleh ulama Asy'ariyah dan Maturidi kelima ah abad kedelapan (kesebelas iklan abad keempat belas), gagal untuk membendung gelombang ini dan kembali kalam. Akhirnya, melengkapi efek dari tradisionalisme adalah munculnya dan popularitas mistisisme sufi (lihat Mistik filsafat dalam Islam ). Meskipun ditentang oleh tradisionalisme, tasawuf juga anti-rasionalis dan juga tumbuh dengan mengorbankan kalam dan filsafat.

Dengan semua kekuatan besar dikerahkan terhadap hal itu, penurunan kalam tak terelakkan. Sekolah-sekolah awal kalam semua menjadi punah, namun jejak ajaran mereka tetap tertanam dalam doktrin-doktrin dari enam sekolah utama hukum Islam. Dua utama Syiah sekolah (Ithna 'Ashriyya dan Zaydiyya) telah mewarisi beberapa aspek rasionalisme Mu'tazilah dan doktrin. Syiah juga telah lebih berhasil dalam asimilasi kecenderungan sufi dan lebih berdamai dengan wacana filsafat. Hannafiyya menjadi terkait erat dengan sekolah Maturidi kalam. Para Shafi'iyya dianut Ash'arism sebagai aturan umum, seperti yang dilakukan Malikiyya, meskipun dengan antusiasme kurang. Mazhab Hanbali disukai posisi anti-rasionalis dan antropomorfis, kalam curiga sama sekali.
6. Kesimpulan

Kegagalan nyata oleh berbagai sekolah 'ilm al-kalam baik untuk menciptakan untuk dirinya sendiri ceruk yang aman di antara ilmu-ilmu agama, atau untuk mencapai status sistem filosofis independen dari dogma agama, bukan hanya hasil dari elitisme arogan Mu'tazilah dan oportunisme politik mereka. Sebuah malaise lebih menderita sekolah rasionalis, tercermin dalam kebingungan metodologis dan, secara bersamaan, dogmatisme militan mereka. Ironisnya, hal itu diserahkan kepada teolog tradisionalis, terutama al-Asy'ari, al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah, untuk memperkenalkan beberapa skeptisisme yang sehat ke dalam wacana dengan mengungkapkan beberapa kontradiksi-diri yang lebih mencolok dari dogma rasionalis. Namun, tradisionalis tidak hanya mewarisi beberapa kebingungan lawan mereka, mereka juga menambahkan beberapa dari mereka sendiri.

Sebuah contoh menarik dari kebingungan ini adalah penerimaan tidak kritis oleh semua mazhab kalam dari premis Neoplatonisme bahwa kesempurnaan Allah sebagai makhluk yang kekal berarti bahwa dia tidak bisa menjadi tempat kecelakaan (hawadith), sementara menolak konsekuensi logis: keterpencilan Allah dari ciptaan-Nya dan kemustahilan sehari-hari keterlibatannya dengan itu. Kebingungan yang ini kontradiksi-diri yang dihasilkan kemudian dikutip oleh banyak orang sebagai bukti bagaimana alasan tidak cukup tersedia dalam berurusan dengan masalah iman. Pilihan yang ditawarkan masyarakat demikian antara rasionalis yang mendiskreditkan diri sendiri dengan kesalahan nyata mereka, dan kaum tradisionalis yang mengeksploitasi kesalahan ini dan kebingungan untuk mendiskreditkan pemikiran rasional seperti itu.

Serangan keraguan diri yang dibawa oleh gejolak zaman modern telah menciptakan suasana untuk kebangkitan kembali teologi Islam dan filsafat (lihat filsafat Islam, yang modern ). Pelopor kebangkitan Islam modern, seperti Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh ' , mencoba untuk menghidupkan kembali filsafat Islam dan kalam; al-Afghani memang bersikeras bahwa kebangkitan filsafat merupakan prasyarat sangat diperlukan bagi setiap kebangkitan Islam. Satu abad kemudian, gelombang kebangkitan telah tenggelam semua upaya berfilsafat. Di wajah itu, semangat dan kapasitas untuk diri-regenerasi iman Islam tampaknya proporsional resisten terhadap munculnya teologi sistematis dan filosofi.

Namun, meskipun kepuasan diri pada bagian dari ortodoksi, dengan alasan bahwa sejarah telah mengutuk sistem ditolak oleh Islam sebagai cacat fatal dan bingung, tidak ada pengganti untuk menyiapkan pandangan dunia yang layak dan teologi dipertahankan, yang akan tetap keliru dan tidak lengkap namun masih panduan penting bagi kehidupan. Akan terlihat bahwa jika Islam adalah untuk terus sebagai sebuah sistem kehidupan, 'ilm al-kalam (atau sesuatu seperti itu) mungkin perlu dihidupkan kembali, sehingga kemajuan menuju pemahaman diri muslim, sela-kira enam abad yang lalu, dapat kembali.

Lihat juga: Ash'ariyya dan Mu'tazilah ; filsafat Yunani: dampak pada filsafat Islam , fundamentalisme Islam , Filsafat Mistik dalam Islam , filsafat politik di Islam klasik , Agama, sejarah filsafat , Agama, filsafat , Wahyu ; Jiwa dalam Islam filsafat
Abdelwahab EL-AFFENDI
Copyright © 1998, Routledge.